Bahaya Sunat Perempuan: Fakta Medis Mengejutkan

Bahaya Sunat Perempuan: Fakta Medis Mengejutkan
Sunat perempuan, atau lebih dikenal secara medis sebagai Female Genital Mutilation (FGM), masih menjadi praktik yang dilakukan di berbagai belahan dunia. Meski sering dibalut alasan budaya atau tradisi, dari sisi medis, FGM adalah tindakan yang membahayakan dan sama sekali tidak memberi manfaat kesehatan.
Baca juga: Payudara Berubah, Tanda Hamil?
Yuk, kita bahas sisi medis sunat perempuan secara lengkap dan sederhana. Biar kamu, temanmu, dan siapa pun yang membaca bisa lebih sadar akan pentingnya menjaga hak dan kesehatan perempuan sejak dini.
Apa Itu Sunat Perempuan?
Menurut World Health Organization (WHO), FGM adalah segala bentuk prosedur yang mencederai atau memotong sebagian/seluruh organ genital eksternal perempuan tanpa alasan medis. Ini termasuk:
Clitoridectomy: pemotongan sebagian atau seluruh klitoris.
Eksisi: pemotongan klitoris dan labia minora, kadang labia mayor juga ikut.
Infibulasi: penyempitan lubang vagina dengan pemotongan dan penyegelan labia.
Metode lainnya: menusuk, mengiris, mengikis, bahkan menindik alat kelamin perempuan.
Fakta Seram di Balik FGM
Meski terkesan “biasa” di beberapa komunitas, sunat perempuan punya dampak serius. Beberapa fakta medis yang perlu kamu tahu:
Tanpa Manfaat Kesehatan
Berbeda dengan sunat laki-laki (sirkumsisi) yang punya manfaat medis tertentu, WHO menyatakan bahwa FGM sama sekali tidak memberikan manfaat kesehatan. Justru sebaliknya, hanya menyebabkan komplikasi serius.Risiko Serius
Prosedur ini bisa menyebabkan:Perdarahan hebat
Infeksi berat
Trauma psikologis
Ketidaksuburan
Gangguan buang air kecil
Komplikasi saat melahirkan
Kematian akibat infeksi atau pendarahan
Dilakukan pada Anak dan Remaja
FGM biasanya dilakukan saat bayi hingga usia 15 tahun. Bayangkan trauma dan rasa sakit yang mereka tanggung.Bukan Oleh Tenaga Medis
Menurut WHO, hanya 18% prosedur ini dilakukan oleh tenaga medis. Sisanya? Oleh tukang sunat tradisional yang tanpa pelatihan medis.140 Juta Korban
Sekitar 140 juta perempuan dan anak perempuan di dunia hidup dengan dampak FGM. Di Afrika saja, lebih dari 92 juta perempuan di atas usia 10 tahun pernah mengalami FGM.
Kenapa Masih Ada yang Melakukan?
Jawabannya kompleks. Praktik ini dipengaruhi oleh:
Tradisi dan Budaya
Banyak komunitas menganggap FGM sebagai simbol kehormatan, kesucian, atau syarat sebelum menikah.Tekanan Sosial
Tak jarang orang tua merasa “harus” melakukannya agar anak mereka diterima di lingkungan sekitar.Pemahaman Agama yang Salah
Beberapa pihak mengklaim ini bagian dari ajaran agama, padahal banyak tokoh agama sudah menegaskan bahwa ini bukan ajaran agama, melainkan budaya.
Pandangan Dunia Terhadap FGM
Sejak tahun 1997, WHO bersama UNICEF, UNFPA dan organisasi internasional lainnya aktif menentang praktik ini.
Beberapa langkah penting yang sudah dilakukan:
1997: WHO, UNICEF, dan UNFPA merilis pernyataan bersama menentang FGM.
2008: World Health Assembly mengeluarkan Resolusi WHA61.16 tentang eliminasi FGM.
2010: WHO meluncurkan strategi global untuk menghentikan praktik FGM di fasilitas kesehatan.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan sempat mengatur sunat perempuan lewat Permenkes No. 1636 Tahun 2010, namun belakangan justru menuai kritik dari banyak pihak karena dianggap melegalkan FGM secara medis.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
Kalau kamu peduli pada kesehatan perempuan dan masa depan anak-anak perempuan di sekitarmu, kamu bisa:
✅ Edukasi orang-orang terdekat tentang bahaya FGM.
✅ Dukung komunitas atau kampanye yang menolak sunat perempuan.
✅ Sebarkan informasi kredibel, misalnya dari WHO atau UNICEF.
✅ Laporkan praktik FGM jika menemukannya di sekitar kamu.
Penutup
Sunat perempuan bukanlah soal budaya semata, tapi menyangkut nyawa, masa depan, dan hak asasi manusia. Tidak ada satupun alasan medis yang membenarkannya. Saatnya kita semua bersuara, memberi edukasi, dan melindungi perempuan dari praktik yang menyakitkan ini.